Sabtu, 29 Maret 2014

Pengaruh

Gua pikir gua adalah orang yang gampang terpengaruh, tapi ya tergantung juga. Misalnya kayak sekarang, gua lagi (sok) mencoba nyari tau tentang parpol buat pemilu nanti, akibat gua baca artikel zenius tentang "lo tuh gak boleh golput. Sebagai orang yang udah dikasih kepercayaan untuk memilih, sudah saatnya lo harus menentukan nasib negara. Masa depan negara, secara gak sadar ada di tangan lo" gitu. Tapi di suatu saat, gua konsultasi ke ibu tentang siapa yang harus gua coblos dan jawabannya, "gatau ya, ntar liat aja yang fotonya bagus yang mana". Ya kalau semua orang macam ibu gua sih, semua caleg kudu operasi plastik. Tapi catatan aja kalau ibu gua tidak suka sama orang yang alisnya disulam, itu getek. 

Gua juga, gua gak suka sama caleg caleg yang alisnya disulam. Atau caleg caleg yang alisnya naik, lu suka liat gak sih caleg yang nyukur alis, tapi alisnya naik gitu jadi kayak kaget mulu ekspresinya. Kan kurang bagus kalau misalnya nih, beliau udah jadi "orang" abis itu bawahannya ngasih map kerjaan gitu. Dan percakapan akan terjadi kayak gini 

"ibu ini map yang- IBU KENAPA" 
"Saya tidak kenapa kenapa" 
"IBU TERLIHAT KAGET"
"Kaget kenapa?!" *kali ini kaget beneran, alis udah naik sampe dekat rambut*



Kurang indah memang, melihat orang dengan alis "kaget" begitu. 

Ya like mother like daughter. Kita emang suka gosip.

Ngomong ngomong tentang terpengaruh, jaman SD dulu gua sangat terpengaruh sinetron yang judulnya "Aku Bukan Untukmu". Disingkat ABU. Sinetron itu dikenalin sama kakak kelas sebut saja kak I, dia menyebarkan paham ABU sama seantero jemputan om Usman. Dan pas kakak itu ngomongin ABU, gua merasa gua seperti orang yang tertinggal jaman. Gua masih suka nonton kuntilanak suzanna di tv, sementara temen temen udah mulai mengenal cinta. Gak bisa begini terus. 

Dulu, yang namanya nonton sinetron itu dianggap tabu sama ibu. Pokoknya no sinetron until you're mature enough bahasa kerennya. Kecil kecil udah nonton sinetron, mau jadi apa. Nah karena itulah, gua harus belajar untuk menyelinap kalau mau ikut jaman. 

Waktu itu ABU dimulai jam 9 malam, dan pemainnya itu Nabila Syakieb dan Bertrand Antolin, sama seorang cewek jutek yang gak gua ingat. Gua gak begitu ingat sama ceritanya, tapi gua ingat sama cerita si cewek jutek pura pura dihamilin bertrand, tapi bertrand suka sama nabila. Nah, ABU ini bukan sinetron tipe Bidadari atau dulce maria, tapi ini lumayan dewasa. Maksud gua jalan ceritanya. Dan gua inget saat itu Bertrand adalah cowok idaman masa depan, kalau ditanya artis favorit maka jawaban gua adalah Bertrand Antolin. Siapa calon suamimu, maka jawaban gua yang mirip bertrand antolin. Gaada cowok yang se oke Bertrand. Soalnya emang ganteng banget, parah. Dan mulai saat itulah, gua mengenal cinta. Kalau cinta itu gak harus memiliki, kalau cinta itu, gak selamanya bahagia. Cinta adalah, saat cowok lu mau kawin sama cewek lain dan lu datang saat mereka mau ijab kabul di kala hujan dan teriak "TIDAAAAAAK". Bagi gua dulu, cinta adalah sesederhana itu. 

Tapi belakangan gua baru tau kalau Bertrand adalah homo. 
Hancur sudah.
Gacin. 

Kemarin, gua baca cerita tentang pembantu yang jatuh cinta sama majikannya lalu mereka menikah. Sesederhana itu. Gua tau ini bodoh, mau UN malah baca ginian. Dan ya cerita ini not recommended lah, gaperlu dibaca serius hahahaha. Tapi yang gua ambil adalah, seandainya, cinta itu sesederhana itu. Sesederhana lu jatuh cinta, lalu semuanya beres. Sesederhana bertemu, lalu hidup bahagia selamanya. 

Tapi ternyata nggak. Gua sudah mendengar cerita cinta dari temen temen dan ternyata cinta itu gak sesederhana itu. Rumit. 

Dan ternyata, 
menunggu memang gak sesederhana itu. 
Sudah saatnya harus meninggalkan, yang harus ditinggalkan. 
----------------------------------------------------------------------------------------------


H-15 UN
UDAH SIAP DIN?
MAU NANGIS 








Sabtu, 22 Maret 2014

Perjalanan Ujian Sekolah

Pada dasarnya, manusia memang sudah dirancang untuk hidup dalam tahapan tahapan. Entah itu tahapan dari lu zaman embrio, lalu lahir, jadi balita, jadi anak anak, jadi remaja, jadi dewasa, jadi tua, dan selesai. Kembali ke yang maha kuasa. Ngerti kan. Mati. Dead. Paeh. Meninggal. 

Sama kayak sekarang, pada dasarnya hidup gua pun berlika liku, dan saat menghadapi tanjakan itulah, saatnya gua atau kita naik tingkat. Menjadi orang dengan pola pikir yang (seharusnya) baru juga. Pendewasaan. Cie. 

Dan hari ini, 1 tahapan dalam hidup udah berhasil terjalani. Ujian Sekolah. 

Tolong, putar backsound "tuhan memang satu kita yang tak sama" nya Marcell dong. Biar gacin. Dari 2 kata "ujian sekolah" aja gua merasakan bau bau kegelapan dari keyboard. Lu ngerti kan, kayak otak bakar. Bukan otak otak bakar, itu enak by the way.

Ujian Sekolah dilakukan selama seminggu kurang sehari, dimulai dari senin sampe sabtu. 

HARI PEMBANTAIAN PERTAMA

H-1 sebelum US, gua adalah orang paling siap ujian di dunia. Gak ada yang lebih siap dibanding gua. Dan dengan kepercayaan diri yang tinggi itulah, gua memberanikan diri naik motor ke sekolah berbekal KTP baru yang belum dilaminating karena baru jadi, dan STNK motor, dan jaket centang andalan karena gaada jaket lain yang lebih gaul untuk pergi.  Awalnya gua pergi menjemput oknum E sebut saja Ecy, dia udah siap jadi hooligan dengan baju pink kerudung pink. 

"gue bawa buku pelajaran kok" Dan dengan berbekal kalimat ampuh itu, kita berangkat.

Sampe disekolah langsung kembali melebur bersama lapangan, matahari, dan baris berbaris. Lu ngerti kan, urusan ini sangat serius jadi gua harus cerita dengan serius. Menonton baris itu, sama sakralnya dengan belajar. Kalau belajar lu lelah, kalau nonton baris lebih lelah. Apalagi kalau nontonnya sambil komentar. Capek ati. 

Pandawa ikut lomba (lagi) kali ini Bogor Championship. Ah, kenangan lama. Piala taun lalu kayaknya udah uzur dijadiin cantelan anduknya pak Heri. Gantungan kaos kaki entah milik siapa. Dan disaat yang sangat cheesy itu, gua lupa dengan US. Iyalah, udah siap banget. 

Abis itu pergi ke GOR dan nonton sampe sore.

Alhamdulillah, selamat ya Pandawa untuk harapan 3nya. Gak cuma berharap. Setidaknya harapan, imbuhannya beda. Artinya juga beda. Gua gak akan banyak komentar, nanti gegabah omongannya hahahaha. 

Abis itu pulang, dan tidur. Apa gua bilang, siap banget kan.... 

Sedih kan baca hari pertama ini. 

Dan keesokan harinya, gua melewati hari pembantaian pertama dengan (alhamdulillah) hati utuh. Otak belum berceceran. Mungkin ini mukjizat. 

HARI PEMBANTAIAN KEDUA

Whatsap di malam hari 

"KAMPRET APAAN SIH INI PKN" 
"din sabar din jangan gegabah!" 
"TAPI INI GAPENTING TAU GAK"
"iya din vivi ngerti" 
"LU TAU GAK JIWA NASIONALISME GUA UDAH SEBEGINI BERKOBARNYA" 
"vivi ngerti din udah ya din... udah dong..." 
"nih vi gua kirimin voice note gua ngomong bahasa jepang" 
..............

"din sumpah" 
"din" 
"din dulu ditangkar di penangkaran mana"
"kok ada sih manusia kayak lu din"
"din merinding gimana dong kok kayak suara AKB48"

HARI PEMBANTAIAN KETIGA 

Matematika dan apa ya kok lupa #soklupa #bumbu #biar #asik. Sejarah. Matematika disatuin sama sejarah itu loh yang masih gak gua ngerti. 
Bahan ujian mulai kecampur, kayak pertanyaan "siapa bapak sejarah?" lalu dijawab sama otak "Pak Asep" 
Terus bengong. Pak Asep? Oiya soal mate yang itu ya!
"Pak Asep, istri dan 11 anaknya akan berfoto. Wah 11, asa kenal. Oh team bola. Mereka akan difoto dengan berbagai gaya, dan urutan duduk yang berbeda pula. Berapa cara duduk mereka jika 2 anak yang suka bakso tidak mau  berpisah, 4 anak yang suka makan gehu ingin dekat dengan ibunya, tapi Pak Asep dan istrinya tidak mau duduk bersebelahan karena rumah tangga mereka sedang terlanda goncangan?"

1. Mereka cuma punya 1 pilihan duduk. 

Pasti pada mau tau kan kenapa cuma 1. Kepo lu, suka nyampurin urusan orang. Pergi gak. 

HARI PEMBANTAIAN KEEMPAT

Biologi, penjaskes dan bahasa sunda. Tong cengceremed sia. 

Kata orang, kalau ujian hari keempat itu biasanya kelakuan udah sengkle. Dan kejadian itu terjadi...
"ani hp gua kemana" 
"itu di tangan"
"oooh" terus gua jalan keluar, dan ngeliat ke koridor. Mana hp gua. 
"din ngapain ke luar"
"nyari hp" 
Dinda teriak nyolot "ITU DI TANGAN LU ANJAS" 
Liat tangan. Oiya, di tangan, lagi dipegang. 
-------------------------------------------------

"din... numpang sms" 
Hp dikasih lalu gua sms ke pak iim kalau gua balik lebih siang. Abis itu gua masukin hp itu ke tas pink. Dan pas mau pulang... 
"din hp gua kemana"
"udah gua masukin tas" 
"gaada..."
"DINDA KOK TAS LU GAK POLKADOT" 
"emang nggak din..."
"HP LU DI TAS POLKADOT DIN" 
"HAH HP GUA" 
Langsung panik, gua mau nangis gara gara bahkan gatau itu tas siapa, mana itu yang nyasar hp lagi. Tiba tiba Sherlin lewat dan.. ITU TAS POLKADOT. PINK. 
"SHEEER ADA HP"
"HAH" 
"DI TAS ELU" 
"HAH APAAN SIH" 


"din mending lu pulang sekarang juga, terus berdoa biar Allah ngebenerin otak lu hari ini..."
-------------------------------------------

PEMBANTAIAN HARI KELIMA

"APA SIH JERMAN. GAMAU JERMAN" 
"din kenapa lagi sih din..."
"VI DENGERIN"
"gimana gak dengerin din ini kan chatting... vivi gak mungkin gak liat.." 
"vi gua kirimin bahasa swahili ya" 

..............................


"dinna anjas pergi gak dari hidup vivi. Capek din. Buyar sudah semua ilmu ich bin aus Bali!"
"vi kalau gua kirmin..."
"nggak" 
"thailand" 
"nggak" 
"no way. pergi. udah. stop."

Hh. lu ngerti gak sih suatu keadaan dimana lu rasanya mau teriak, gak mau peduli sama pelajaran itu tapi gak bisa gak peduli. Pusing kan. Makanya gua harus cari korban. Ah iya, grup line Jomblo Bahagia (sekarang udah ganti jadi The Ngangkangs) (Ya Allah hidup gua udah gak bener banget gimana dong)

"gua kirimin bahasa jepang mau gak" read by 2
"gak"
"gak" 
Tania gak read, dia pasti belajar keras disana.....

final. Yaudah. Mungkin kita memang harus belajar. Mungkin kita harus move on! 

Keesokan harinya, gua merasa passion gua mungkin bukan lagi dalam bidang mengetik cepat, atau tidak menjadi gemuk dalam waktu 6 tahun, atau mungkin membuang ingus tercepat. Tapi gua sadar, bakat ini ternyata terpendam. Yaitu, mengerjakan soal bahasa jerman dengan insting bertaraf olimpiade.


PEMBANTAIAN HARI TERAKHIR 

dan ujian penutup untuk hari ini adalah fisika dan TIK! Semoga hasilnya gak zonk ya hehe sudah berusaha kan? 

Btw terimakasih untuk pencerahan otaknya oknum T idung dan T berkerudung! Setidaknya, hari ini ketawa lebih sering daripada akhir akhir ini hahaha dan ngomongin topik yang sama. Topik tentang rumah, yang harus ditinggalkan sebentar lagi. Dengan semua isinya, dengan semua anggotanya, dan kenangannya. Selamat mengejar mimpi ya, untuk kita semua.








Selasa, 11 Maret 2014

H minus

Kalau dibilang rasanya butuh 36 jam sehari untuk bisa lebih maksimal ngejalanin hidup... Antara iya dan nggak. Iya, karena ternyata sekarang (nggak sekarang juga sih, di waktu tertentu yang lain) kerasa kalau 24 jam, itu cuma 86.400 detik, dimana sebenernya lu bisa menghitung itu dengan tangan ya paling setelah selesai jari lu akan berubah jadi lunak. Sebentar loh itu ya belum dikurang sama jam tidur ya contoh kecilnya untuk gua yang tidur sehari bisa dimana aja kapan aja dengan siapa aja nah itu secara gak sadar udah mengurangi waktu efektif untuk belajar... Ngerti kan. 

Tapi sore ini baru kerasa yang namanya badan ngamuk. Perut kocar kacir, masuk angin membuat hari ini oknum P jadi sasaran curhatan "gua sakit perut", pulang sekolah baru sadar badan kayak anai anai disenggol dikit langsung nabrak dinding, mual lunglai dan silahkan tambahkan sendiri biar makin terdengar menyedihkan. Efek belajar banget kayaknya din. Aamiiin belajar banget, tapi sayangnya tidak begitu. Liat aja sih apa yang gua lakukan sekarang, blogging. Ga sadar ribuan pelajar lain lagi berlari sedangkan gua malah selonjoran di pinggir jalan dan membiarkan yang lain berlari. 

H-34 Ujian Nasional... (udah speechless gatau mau ngetik apa)