Rabu, 12 Februari 2014

Dasar, manusia

Btw, mendadak berpikir. Kalau lu sedang sedih, yang ada di otak lu itu cuma kenangan sedih doang. Misalnya, lu lagi patah hati, maka otak lu akan memutar semua hal sedih. Dari patah hati (di waktu sebelumnya) atau bisa juga langsung ke memori dimana lu harus ngantri buat remedial matematika, meanwhile di lapangan sana mau ada konser Nokia Asha. Tapi yang gak adil adalah, saat lu senang, otak lu akan bercabang antara hal sedih dan hal senang. Kayak contohnya, saat gua selesai nonton konser maka perasaan campur aduk isinya bahagia, bahagia, bahagia, bahagia, dan sedih. Part terakhir itu yang agak ganggu. Bahagia karena berhasil ketemu calon mantu ibu setelah effort yang dilakukan (tinggal pilih mau yang rada banci atau yang laki, dari yang pake eyeliner sampe yang robek robek baju), dan sedih juga kayak anjas, duit segini dipake buat seneng seneng doang. Nahloh. 

Seperti sekarang. Gua pikir, hidup gua sekarang membahagiakan. Atau mungkin gak membahagiakan. Gak ngerti juga. Sebelum gua jajan es krim feast tadi, rasanya kayak dunia mau kebelah dua, hancur. Tapi setelah jajan es krim, rasanya masalah yang dihadapi ternyata gak seberat itu. Ada jalan keluarnya, yaitu berjuang sendirian. Lagi lagi, ini tentang skill dalam mengendalikan diri sendiri kan? Yang tau kuat atau nggaknya itu lu. Yang tau lu butuh menangis atau nggak ya cuma diri sendiri. Masa mau sms temen dan bilang "kau tak tau betapa rapuhnya aku" kayak lagunya siapa itu, kan gak banget. Intinya sih, mencoba belajar buat menemukan titik kebahagiaan buat diri sendiri. Kalau dirasa menangis itu membahagiakan, ya lakukan. Seperti sekarang, atau hari hari sebelum sebelum sebelum sebelum dan sebelumnya lagi. 

Penipu. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar