Kamis, 24 Oktober 2013

"Inituh, kayak pemusik disuruh main basket. Atlet renang disuruh nari balet. Jadi jangan salahkan murid kalau murid menghalalkan segala cara karena sekolah menuntut murid agar dapat nilai bagus di semua pelajaran. Tolak ukur bodoh atau pintar itu tergantung nilai, siapa yang mau dianggap bodoh"
-hasil diskusi 3 jam bersama putri alfauziah- 

Karena sistem pendidikannya memang begini, ya jalani. Dari kecil aja udah diajarin untuk dapat "nilai" bagus tanpa melihat proses, yaudah. Semoga Indonesia tetap maju dan jaya. 

Selamat malam. 

Kamis, 17 Oktober 2013

Penyakit hati

Kalau misalnya, sudah bisa menyesuaikan ritme tapi gak bisa ikhlas, itu dendam gak? 
Kalau misalnya, selalu menghindari agar emosi gak naik, itu dendam gak? 

Tadi mencoba nyari di google pake keyword "dendam" yang keluar malah "dendam kuntilanak", kesel gak. Tapi alhamdulillah ya, nemu ini Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan melainkan kemuliaan” (HR Muslim)

Kalau memaafkan, bohong kalau sudah bisa memaafkan. Tapi ini kan sudah berusaha menyesuaikan, sudah berusaha bertindak sebagaimana mestinya, menunjukkan sikap sebagaimana mestinya di depan orang lain, apa ini masih dendam ya. 

Jalan pikiran gua emang ribet, maafin. 

Dapat telpon. Dari mama, "mbak, mama lagi mau ke Mina, doain ya" dan gak ada, dalam 2 bulan ini, yang bisa membuat nangis lebih dari ini. Hahahahahaha menye menye ya. 
"mama nemu arab ganteng ganteng loh dinn jauh dari siwon" 
terus gagal nangis
"tapi cowok arab birahinya kenceng loh ma" 
"HAH MASA" 
Lalu obrolan berlanjut dengan tidak pentingnya, sampai akhirnya sampai pada point paling penting, "dinn, belajar memaafkan ya. Pelan pelan" 
dan gak ada, dalam 2 bulan ini, yang bisa membuat jatuh sejatuh jatuhnya daripada kalimat itu. Bahkan hasil UTS matematika sekalipun. 

Karena sebenarnya, bukan sabar kalau masih ada batas. Dan bukan ikhlas jika masih merasakan sakit. 

ternyata,  belum ikhlas. masih jauh dari sabar. dan masih mendendam






Sabtu, 05 Oktober 2013

Apa yang Saya Dapatkan Selama Fase Kelas 12 (tanpa format)

1. Bau otak
2. Belajar mengingatkan orang lain tentang cara mengatasi titik jenuh. Belajar untuk lebih ikhlas lagi.  
3. Belajar untuk bersama sama, memberikan turning point untuk diri sendiri orang lain dan semi organisasi yang diikuti
4. Belajar untuk belajar minimal 60 menit sehari tapi biasanya sampai rumah langsung tepar dan "mau belajar lagi pas sampai rumah" itu klise. Mitos. Wacana
5. Belajar untuk membuang ego. Belajar berkorban
-Besok ulangan. Gua mau belajar aja. | dikira orang lain gak butuh belajar. Emang yang ulangan cuma gua aja
-Banyak tugas, gua ngerjain tugas dulu deh baru dateng | kayaknya guru kelas 12 ngasih deadline yang sama. Yang lain juga banyak tugas. Salah sendiri gak bisa mengontrol diri sendiri di rumah.  
dan lain lain. Belajar banyak dari kalian. 
6. Semakin ngeh kalau gua sudah semakin tua
7. Semakin sadar kalau tinggal 5-6 bulan di smansa. Sekolah kehidupan. Sekolah kotak sabun. Sekolah yang gak pernah sepi walaupun sampai malam. Sekolah yang sudah merubah hidup banyak orang 180 derajat. Sekolah yang menunjukkan "goal hidup gua itu apa sih" 
8. Semakin sadar, kalau buku perpus kelas 11 belum dikembaliin 
9. Semakin sering bertemu XXIV, tapi artinya, semakin sebentar waktu buat kumpul lagi di waktu yang akan datang. 
10. Semakin kurus







Ditulis dengan hati kesal karena besok UTS dan tetangga sedang merayakan hari ulangtahun anaknya, dan gua gak diundang. Padahal ada badut McD. Dapet makan. Dapet doorprize. Banyak balonnya
Dinna mau