Sabtu, 16 Februari 2013

Semua orang bicara soal mimpi. 
Semua orang bicara tentang perbedaan realistis dan pesimis. 

Dan here i come. Bicara soal diri sendiri. Tentang mimpi diri sendiri. 

Dari kecil, gua selalu bercita cita jadi dokter. Jadi orang yang bisa nyembuhin orang yang sakit kayak Cilla, well, jaman dulu Cilla belum ada. Yang ada baru Maisy dan Sherina. 
Baru waktu kelas 6 SD, gua putar haluan dan bermimpi jadi seorang penulis novel. Novel genre apapun. Asal nama gua bisa tercetak di sampul sebuah novel best seller, itu cukup. Gak perlu jadi orang kaya, begitu gua pikir. Gua cuma berpikir untuk menyenangkan diri gua sendiri. 
Tapi ternyata setelah masuk SMP, gua akhrinya mengerti kalau hidup itu bukan cuma sekedar menyenangkan diri sendiri, tapi banyak pihak yang terlibat di kehidupan gua. Ibu misalnya. Waktu SD, gua gak pernah peduli sama nilai gua sendiri, toh gua selalu ranking di kelas. Dan gak pernah ada hadiah khusus, atau perayaan khusus seperti yang teman teman gua lakukan kalau mereka dapet ranking 3 besar. Gua cuma menjalani hidup gua sebagaimana mestinya, sebagaimana senengnya gua. Tapi semenjak SMP, ketidakpedulian gua akhrinya jadi pukulan buat diri sendiri. Nilai gua anjlok di semester 1. Dan itu pertama kalinya gua liat ibu gua kecewa. Saat itu gua mengerti. Kalau saat lu menginjakkan kaki di SMP, akan ada lebih banyak orang yang harus lu pikirkan perasaannya. Bukan sekedar hidup.

Kelas 2 SMP, gua kembali mengganti mimpi gua jadi seorang dokter. Kali ini bukan cuma sekedar dokter yang bisa nyembuhin orang sakit, tapi jadi dokter anak. Di buku buku SMP gua dulu, gua sering nulis "dr.Dinna Ayu Widyasari Sp.A". Dan mimpi itu berlanjut sampai kelas 1 SMA. 

"Kalau diliat, kamu emang bukan murid dengan nilai paling besar. Murid dengan IQ paling tinggi. Tapi kamu bisa jadi hebat dengan cara kamu sendiri. Setidaknya daripada jadi orang terbaik, lebih baik jadi orang yang selalu melakukan yang terbaik menurut diri sendiri. Kamu kan udah masuk SMANSA, harus bisa jadi dokter" 
Kalimat yang gak pernah gua lupain sampe sekarang. Kalimat ini diucapin waktu hari pertama masuk Smansa. Naik mobil APV lama, dan duduk di depan. Bareng ayah.  

Semester 1 di SMANSA bagi gua semester terberat. Gua kaget sama lingkungannya yang penuh orang orang pinter. Gua gak siap. 
Semester 2, ternyata Allah ngasih kehidupan yang lain. Hidup rasanya jumpalitan kesana kemari. Gak jelas. Berusaha cari pegangan. Dan yang bisa gua lakukan cuma kabur. Beralasan "sakit" dengan arti yang beda. Antara bohong dan nggak. Mimpi gua berubah 180 derajat. Atau lebih tepatnya, gua gak lagi punya mimpi. 

Sampai sekarang, gua belum punya mimpi yang jelas. Belum punya tujuan, sebenernya mau jadi apasih? Loncat dari teknik ini ke teknik yang itu. Tanpa gua tau passion gua sebenarnya dimana. Mau gua apa. 

Ketika semua quotes tentang mimpi menjadi basi karena terlalu banyak quote yang lu dengar.  Ketika hidup lu bukan lagi tentang menyenangkan diri lu sendiri tapi tentang bagaimana menyenangkan orang lain. 

Sekarang cuma bisa kayak gini. Semua orang punya kemampuan sendiri sendiri untuk suffer, bukan? 
Semoga rencana teknik yang ini bisa menutupi mimpi yang dulu.
Bismillah




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar