Jumat, 22 Februari 2013

Lebih banyak hal

Ada 1 pertanyaan di dunia ini yang masih terus berputar di otak.

Ayam sama telur ayam, yang mana yang duluan ada? 

Pertanyaan itu akan jadi pertanyaan baru lagi ketika ada yang menjawab "ayam" 

Terus ayamnya darimana dong? bukannya ayam lahir dari telur? 

Dan pertanyaan ini akan kembali beranak ketika seseorang menjawab "telur" 

Telur bukannya dari ayam ya? Terus telur darimana?

Ternyata, kenyataannya bahwa gak semua pertanyaan itu bisa dijawab. Kayak misalnya pertanyaan "Dinn, kenapa nama lu Dinna dan adek lu Ghefira?" 
So what gitu. Kalau bisa puter waktu, mungkin gua akan ganti nama jadi Beyonce. Atau Rihanna. Tapi gua gak akan mau ganti nama jadi Katy Perry karena lidah orang Indonesia itu suka semena mena. Katy Perry emang secara harfiah dibacanya "keti peri" dan akan terdengar earcatchy ketika "keti peri" dilafalkan sama the bule. Tapi kalau orang Indonesia, "keti peri" akan terdengar sebagai keti ketek. Jadi inget iklan semena mena itu, "aduh, keti ku basah" 

Sebenernya sejarah nama Dinna ini udah gua ceritain ke hampir semua orang yang pernah nanya pertanyaan sangat retoris itu. Tapi, let me tell you about this.

Again. 


Seminggu setelah gua lahir, nama gua adalah Tuti... Tuti something. Bahkan ibu gua cuma inget nama "Tuti" itu. Di era 1990-an, mungkin nama Tuti itu nama gaul. Nggak, bukan berarti gua bilang Tuti itu nama yang gak bagus. Tapi coba lu cari anak umur 16-18 tahun yang namanya Tuti saat ini. 

Tapi tiba tiba, H-1 pembuatan akte kelahiran, ibu gua seakan tersadarkan. Beliau visioner, dan mikir tentang nama lain yang lebih gaul daripada yang gaul. Dan tercetuslah nama Dinna yang artinya petunjuk. Ayu yang artinya cantik, dan suatu nama kurang etis di belakangnya. Widyasari. Gua gak tega buat ngejelasin nama ini, jadi biarkan menjadi misteri. 

Si petunjuk cantik ini dulunya adalah balita gaul. Penjelajah komplek ciomas. Semua gang komplek udah di lewatin pake sepeda merk family yang masih eksis aja sampe sekarang. Semua perosotan di tiap blok udah dipantatin. Semua rumah rumah balita gaul saat itu udah pernah didatangin. Semua pos ronda pernah jadi tempat tongkrongan tiap sore.

Dan seperti layaknya bayi gaul lainnya, gua selalu megang hp yang kalau nomer 1 diteken, ringtone gaul bakal kedengeran "FIRE FIRE FIRE!" atau lagunya aquatic yang barbie girl. Dan balita gak akan jadi gaul kalau dia belum pake baju muslim bermerk Keke atau Danis ketika ngaji ke TPA. 

Waktu TK, gua mulai mengenal yang namanya kehidupan keras sekolah. Sebagai seorang balita gaul yang udah beranjak jadi anak kecil gaul, gua eksis di TK Anggraini. Gua ikut nari bali dan dapet posisi yang selalu nari di paling pojok sebelah kanan dan gak pernah maju kedepan. 
Dan saat itu, gua adalah anak dengan tas paling gaul. Tas pink dengan gambar 3 anak kecil yang teriak Haha Hehe Hoho. Tapi kegaulan itu terancam waktu seorang anak B1 pake tas yang sama kayak gua. Itulah titik balik kehancuran reputasi gua sebagai balita gaul. 

Dan sejak saat itu, kegaulan itu makin pudar dan sekarang jadi orang yang gak tau arah jalan pulang. 

Sekarang ada pertanyaan baru yang masih gak bisa dijawab. Bahkan oleh diri sendiri. 

Passion gua dimana? 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar